Photo Album News

  • tanggal update : 2022-03-26 1:21 PM

     

    Pada tgl. 1 Maret telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Sembahyang khusus ini dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo sejak bulan April tahun lalu dan dilaksanakan setiap bulan pada  tanggal 1 pukul 12:00 siang.

    Sebagai upaya pencegahan untuk mengurangi perluasan penyebaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di halaman di depan Tempat Sembahyang Selatan pun disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Zensuke Nakata, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan Hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan Kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Zensuke Nakata.

    Sebelum sembahyang dimulai, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, Zensuke Nakata memberikan sambutan.

    Di awal sambutannya, terlebih dahulu Bapak Nakata menyinggung kata sambutan Bapak Miyamori Yoichiro, Kepala Jawatan Urusan Dalam Gereja Pusat Tenrikyo pada saat Sembahyang khusus untuk bulan Februari lalu. Merujuk pada isinya, bahwa sudah waktunya bagi kita untuk meraih kembali ikatan batin yang terputus akibat COVID-19 dan bertekad kembali untuk melakukan Tugas Penyelamatan, Bapak Nakata menuturkan, “Apakah yang dituntut oleh Tuhan Orang Tua dari kita dalam kondisi Pandemi Covid-19 ini. Maka penting bagi kita untuk terus memikirkannya sambil mengambil langkah ke tahap selanjutnya sebagai Yoboku.

    Setelah itu, diumumkan bahwa Sembahyang khusus di Gereja Pusat akan diakhiri pada bulan ini. Mengingat bahwa ketakutan dan kecemasan akan virus yang sama sekali tidak dikenal pada awal pandemi ini telah berkurang, berkat adanya pengembangan vaksin dan obat-obatan serta adanya hasil penelitian yang lebih dalam mengenai virus ini, dan memperhatikan Sembahyang khusus yang tekun dilakukan secara individu oleh Yoboku maupun di gereja-gereja cabang lainnya, beliau berkata, “Saya rasa, keadaan kita sudah cukup tenang sekarang.”

    Setelah itu, beliau menekankan bahwa saat ini adalah waktunya untuk mulai mempersiapkan hati kita untuk menuju “Upacara Peringatan Oyasama ke-140 Tahun” yang akan kita sambut empat tahun kemudian. Lalu ditegaskannya, “Upacara Peringatan Oyasama” merupakan kesempatan bagi kita untuk memacu usaha pendewasaan hati kita serta waktunya bagi kita untuk dengan penuh rasa syukur membalas kebaikan Tuhan yang berupa berkah yang senantiasa kita terima tanpa hentinya dengan melaksanakan Usaha Penyelamatan dan Usaha Pemercikan Keharuman Ajaran Tuhan Orangtua serta Hinokishin.

    Sebagai penutup, Bapak Nakata menyampaikan bahwa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dengan menerapkan protokol kesehatan yang secukupnya untuk menangani Covid-19, sekarang kita mulai dapat menjalankan berbagai aktifitas. Maka dari sekarang, untuk memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua agar pandemi Covid-19 berakhir, kita perlu melakukan pengamalan iman kita secara nyata. Dan, dengan memahami dan merespon kehendak Tuhan yang tersirat dalam petaka kali ini, marilah kita bergerak dan memanjatkan doa untuk berkah perlindungan yang berkelanjutan.

  • tanggal update : 2022-01-30 8:10 PM

    *’ruas buku’ adalah metafora untuk situasi menantang yang kita hadapi.

     

    Pada tgl. 5 Januari telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Adapun sembahyang khusus ini, sejak bulan April tahun lalu, dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo pada tanggal 1 setiap bulan mulai dari pukul 12:00 siang.

    Sebagai upaya pencegahan untuk mengurangi perluasan penyebaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di halaman di depan Tempat Sembahyang Selatan disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Zensuke Nakata, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan Hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan Kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Zensuke Nakata.

     

    Sebelum sembahyang dimulai, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, Zensuke Nakata memberikan sambutan.

    Pada awal sambutannya, Bapak Nakata menyatakan, “Setelah melewati pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama dua tahun ini, dalam kondisi yang mencemaskan selama ini, kita selalu mendambakan sesuatu yang mampu menghentikan pandemi Covid-19, tapi di antara kita tidak ada yang tahu bahwa setelah pandemi ini bisa berakhir, apakah kehidupan kita akan kembali normal seperti sedia kala dan masyarakat kita akan menjadi seperti apa.”

    Lalu dilanjutkan, “Pada masa Perang Dunia II, Tenrikyo terpaksa menerima berbagai pembatasan. Tetapi, seusai Perang Dunia II, Shinbashira II segera mendeklarasikan ‘Restorasi’ untuk kembali ke ajaran Oyasama yang sejati. Perang memang merupakan masalah besar atau ‘ruas buku’ besar bagi dunia. Tetapi, dengan mendeklarasikan ‘Restorasi,’ Shinbashira II mengharapkan agar para pengikut Tenrikyo pada masa itu menerima ‘ruas buku’ itu sebagai ‘ruas buku’ yang dinyatakan pada diri mereka masing-masing, sehingga dengan memegang ajaran Oyasama mereka dapat menganggapnya sebagai kesempatan untuk pendewasaan hati dan tetap melangkah maju di Jalan Penyelamatan Setulus Hati.”

    Sama halnya dengan itu, dinyatakannya, pandemi Covid-19 juga merupakan ‘ruas buku’ besar bagi masyarakat luas, tetapi patut dianggap sebagai ‘ruas buku’ yang besar yang menuntut kita agar maju dalam pendewasaan hati. Lalu dengan mengutip ayat Ofudesaki,

     

    Selanjutnya seluruh dunia akan Ku-turun,

    Semuanya kearah kehidupan penuh keriang-gembiraan

    Ofudesaki, X-103

    Anggaplah setiap tahap dari keadaan jalur jalan ini,

    Semuanya sebagai perihalmu sendiri.

    Dan renungkanlah itu baik-baik!

    Ofudesaki, X-104

    Bapak Nakata menekankan, “Kehidupan Riang Gembira tidak datang dengan sendirinya kepada kita, melainkan akan terwujud melalui usaha kita untuk mencarinya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa mulai dari kita, yang hadir pada hari ini perlu menerima ‘ruas buku’ berupa petaka Covid-19 ini sebagai perihal diri kita sendiri dan harus tetap melangkah maju dalam usaha pendewasaan hati. Dengan demikian, kiranya, barulah kita akan dapat menerima berkah berupa berakhirnya petaka yang merisaukan kita pada saat ini.” Dan Bapak Nakata menutup sambutannya dengan mengajak, “Marilah kita bersama-sama berikrar akan hal ini dan bersama-sama menjalankan sembahyang khusus hari ini dengan sepenuh hati.”

     

     

     

  • tanggal update : 2021-11-25 11:47 AM

     

    Pada tgl. 1 November telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo.

    Bersamaan untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan memohon penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya, sembahyang khusus ini menjadi kesempatan yang baik bagi para pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Sembahyang khusus yang dimulai dari bulan April tahun ini dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo setiap bulan pada tanggal 1 pukul 12:00 siang.

    Sebagai upaya untuk mengurangi perluasan penyebaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi di dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di halaman depan Tempat Sembahyang Selatan pun disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Miyamori Yoichiro (Kepala Jawatan Urusan Dalam Gereja Pusat Tenrikyo), naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan Hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan Kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Yoichi Miyamori.

    Sebelum sembahyang khusus dimulai, Bapak Miyamori memberikan sambutan

    Berdasarkan fakta terputusnya komunikasi tatap muka karena Covid-19 yang merebak, Bapak Miyamori menekankan ” Untuk melaksanakan tugas penyelamatan, kita perlu merasakan penderitaan orang yang menderita penyakit atau masalah secara langsung, menghiburnya dengan kata-kata yang lembut, menemani dan menyampaikan Hakekat Sazuke. Tugas penyelamatan kita dimulai dengan terlebih dahulu menyapa dengan kata-kata lembut dan memberi semangat kepada orang tersebut.

    Dengan mengutip Petunjuk Suci Osashizu:

    Tugas penyelamatan dapat terlaksana dengan sendirinya, boleh dibiarkan saja. Tetapi tidak demikian. Menyapa sekali, dua kali, tiga kali. Bila terkumpul usaha itu, tugas penyelamatan kita barulah terlaksana. Mulailah dengan  hal-hal kecil dan mulailah dengan menyapa sepatah dua kata. Ku-sampaikan hal ini.

    Petunjuk Suci Osashizu, tgl. 29 September 1893

    beliau melanjutkan,”Penggunaan telepon, Email maupun layanan video konferensi untuk menyampaikan perasaan kepada orang lain adalah hal yang sangat baik. Hendaknya kita juga memanfaatkan teknologi tersebut. Tetapi bila kita menyapa orang lain secara langsung, suasananya akan berbeda jika dibandingkan dengan waktu menggunakan layanan tersebut. Maka dari itu, marilah kita memperbaiki dan merekontruksi hubungan antara orang-orang yang terputus karena Covid-19 dengan berusaha berkomunikasi secara langsung.”

    Lalu dengan mengutip lagi Petunjuk Suci Osashizu:

    Menanam sebutir benih. Telah Ku-ajarkan pentingnya menabur benih. Karena benih telah ditabur maka ada makna untuk merawatnya.  Setelah menabur benih, barulah engkau memikirkan tentang perawatannya.

    Petunjuk Suci Osashizu, tgl. 10 mei 1899

    Beliau menegaskan bahwa untuk mengubah situasi sekarang sehingga kita dapat memercikkan keharuman ajaran dan menyapa orang  secara langsung seperti sediakala, kita sangat perlu menanam benih. Lalu beliau menghimbau agar kita menanam benih di Jiba dengan berhinokishin seperti mencabut sebatang rumput liar atau dengan melakukan pembersihan lorong di Gereja Pusat. Dan mengakhiri sambutannya dengan berkata ,” Benih ini pasti akan tumbuh berbunga dan berbuah. Upaya itu akan membantu memperbaiki hubungan kita dengan orang-orang lain.”

  • tanggal update : 2021-10-14 4:30 PM

     

     

     

     

     

    Pada tgl. 1 Oktober telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo.

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan memohon penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus ini menjadi kesempatan yang baik bagi para pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Sembahyang khusus yang dimulai dari bulan April tahun ini dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo setiap bulan pada tanggal 1 pukul 12:00 siang.

    Sebagai upaya untuk mengurangi perluasan penyebaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi di dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di halaman depan Tempat Sembahyang Selatan pun disediakan sejumlah kursi pipa

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Miyamori Yoichiro (Kepala Jawatan Urusan Dalam Gereja Pusat Tenrikyo), naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan Hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan Kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Yoichi Miyamori.

    Sebelum sembahyang khusus dimulai, Bapak Miyamori memberikan sambutan.

    Bapak Miyamori, setelah menekankan bahwa sembahyang khusus ini dimulai dari harapan bahwa keinginan untuk menyelamatkan orang lain semakin hari akan menyebar dan menyusup ke kalangan para penganut, beliau melanjutkan dengan menjelaskan mengenai makna yang terkandung dalam kata “sehari-hari”.

    Beliau menjelaskan, “Jika melihat kata ‘sehari-hari’ yang terdapat dalam ayat-ayat Ofudesaki, kebanyakan dari kata itu, selain berhubungan dengan kasih sayang keorangtuaan Tuhan Orangtua yang semata-mata ingin menyelamatkan kita, manusia, berhubungan erat juga dengan ketetapan hati kita dalam melakukan tugas penyelamatan kepada sesama”. Lalu dengan mengutip ayat-ayat dari Ofudesaki.

    Kehendak hati-Ku, Tsukihi, sehari-hari,

    Ialah membersihkan lubuk hati banyak manusia.

    Ofudesaki, X-57

     

    Bila hati seluruh dunia benar-benar mengerti,

    Itu adalah kegembiraan-Ku, Tsukihi.

    Ofudesaki, X-59

     

    Bila hati sekaliannya telah mengerti,

    Barulah Aku, Tsukihi, akan mulai,

    Ofudesaki, X-60

     

    Menabahkan hatimu sehari-hari demi setahap,

    Dan mengajarkan kepada semuanya kehidupan penuh kegembiraan.

    Ofudesaki, X-61

     

    Beliau menegaskan, “Orang yang ditugaskan untuk mewartakan kehendak Tuhan Orangtua dan Teladan Suci Oyasama adalah kita sendiri. Lalu kita juga ditugaskan untuk berkeliling dalam melakukan tugas penyelamatan. Maka dari itu, Tuhan mengajarkan kita dengan kata ‘sehari-hari’ itu agar kita dapat mempertahankan semangat untuk melakukan tugas tersebut”.

    Ditambah lagi, dengan merujuk kepada petunjuk suci Osashizu:

    Walaupun kamu mengerti ajaran secara teoritis, tetapi kamu tidak memahami makna kebenaran yang ada di balik hal-hal yang terjadi setiap hari, apa boleh buat, apa boleh buat, apa boleh buat… (disingkat) Seberapa banyak kamu mengerti ajaran secara teoritis, kalau hanya disimpan ke dalam kotak saja, sama halnya dengan kamu tidak mengerti apa-apa.

    Osashizu, tgl 17 April 1889

    beliau pun menekankan bahwa walaupun memahami ajarannya secara teoritis dan merasa kagum saja, hal itu tidak akan ada artinya jika ajarannya tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah berpesan demikian , beliau pun menutup sambutannya, “Dengan menetapkan di hati kita masing-masing apa yang harus kita lakukan sehari-hari sebagai umat jalan keimanan ini, dari sekarang marilah kita mulai melaksanakan sembahyang khusus untuk memohon meredamnya pandemi Covid-19.

  • tanggal update : 2021-09-24 3:21 PM

     

     

     

     

     

     

    Pada tgl. 1 September telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo.

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Sembahyang khusus yang dimulai dari bulan April tahun ini dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo setiap bulan pada tanggal 1 pukul 12:00 siang.

    Sebagai upaya untuk mengurangi perluasan penyabaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi di dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di halaman depan Tempat Sembahyang Selatan pun disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Zensuke Nakata, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Zensuke Nakata.

     

    Sebelum sembahyang dimulai, Bapak Zensuke Nakata memberikan sambutan.

    Setelah menyinggung tentang situasi pandemi Covid-19 yang masih tak kunjung mereda ini, Bapak Zensuke mengingatkankan kita supaya kita benar-benar merenungkan makna mengapa kita memohon meredam masalah yang terjadi belakangan ini. Beliau menegaskan, disamping melaksanakan sembahyang khusus, kita juga perlu berusaha dengan ketulusan hati dalam usaha penyelamatan supaya berkat perlindungan-Nya dapat diperlihatkan.

    Kemudian, dengan mengutip Nyanyian Suci  Mikagura-uta pasal ke II:

    Ketujuh,             Jika engkau selalu menolong yang menderita,

    Kedelapan,        Boleh Ku-potong segala akar penyakit.

    Kesembilan,      Bila tekadmu tetap bulat,

    Kesepuluh,        Di mana-manapun tenteram jadinya.

    (Nyanyian Suci Mikagura-uta pasal ke-II)

    walaupun di masa Covid-19 pun, bersamaan dengan memohon perlindungan kepada Tuhan Orangtua, yang penting bagi kita adalah berikrar kepada-Nya untuk melaksanakan usaha penyelamatan dengan keteguhan hati.

    Bapak Zensuke Nakata menutup sambutannya dengan berpesan, “Seberapa banyak kita bersyukur kepada Tuhan Orangtua serta selalu bertekun dalam perbuatan balas budi kepada-Nya, kita bisa saja tidak menyadari atau mengetahui kehendak Tuhan Orangtua yang sebenarnya. Maka dari itu, sebagai anak-anak Tuhan Orangtua, haruslah kita menjalani jalan yang telah dirintis oleh Oyasama, dan , walau pada kita masih ada kekurangan, kita harus bersama-sama bekerja sungguh-sungguh dalam usaha penyelamatan sampai dapat memuaskan hati Tuhan.

  • tanggal update : 2021-08-18 1:35 PM

    Pada tgl. 1 Agustus telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo.

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Yoichiro Miyamori (Kepala Jawatan Urusan Dalam Gereja Pusat Tenrikyo), naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Yoichiro Miyamori.

    Sebelum sembahyang dimulai, Bapak Miyamori memberikan sambutan.

    Setelah menyinggung tentang situasi pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda ini, Bapak Miyamori menyampaikan bahwa sebenarnya tanggal 1 Agustus ini semestinya merupakan puncak acara Pekan Ziarah Anak-anak ke Jiba (Kodomo Ojibagaeri). Ditambah lagi dengan adanya pembatalan acara-acara besar seperti Pesta Osechi, pertemuan-pertemuan raya dsb, yang selama ini dapat diselenggarakan tanpa masalah, membuat kita semakin kebingungan sehingga mulai mengalami kesulitan dalam berbagai aspek.

    Kemudian, dengan mengutip dua ayat dari Ofudesaki yaitu:

    Apa pikiranmu sekalian tentang jalan ini?

    Tentu tidak mudah dimengerti.

    Ofudesaki, X-98

    Aku, Tsukihi, bagaimanapun juga akan menempuh

    Segalanya dengan hati tetap dan tulus.

    Ofudesaki, X-99

    beliau menegaskan bahwa walau dalam situasi sesulit apapun, usaha kita dalam “Jalan Penyelamatan Setulus Hati” lah yang sesungguhnya dapat menyebarluaskan ajaran kebenaran ini, dan menekankan lagi bahwa demi dapat menjalankan usaha “Jalan Penyelamatan Setulus Hati”, kepada kita yang menjalani jalan keimanan ini Oyasama justru mengajarkan pelaksanaan Kebaktian, menyingkapkan letak Jiba serta menganugerahkan Hakekat Sazuke.”

    Bapak Miyamori, setelah merujuk kepada Petunjuk Suci Osashizu, menutup sambutannya dengan menyampaikan pesan, “Sekarang memanglah sulit untuk melakukan kegiatan apapun. Walaupun tanpa Pandemi Covid-19 pun, mungkin sekarang memang merupakan masa yang sulit untuk melakukan tugas penyelamatan. Akan tetapi, saya rasa, justru di masa sulit seperti inilah kita perlu kembali lagi untuk mempraktekkan semangat ‘Jalan Penyelamatan Setulus Hati.’ Sekaranglah waktunya bagi kita semua untuk menggenjot usaha penyelamatan dengan penuh semangat.”

  • tanggal update : 2021-08-04 10:51 PM

    Pada tgl. 1 Juli telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon kembali meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Sebagai upaya pencegahan untuk mengurangi perluasan penyabaran infeksi Covid-19, jumlah umat yang berpartisipasi dalam gedung Gereja Pusat pun dibatasi dan di Halaman Dalam Gereja pusat maupun di halaman di depan Tempat Sembahyang Selatan disediakan sejumlah kursi pipa.
    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Zensuke Nakata, Kepala Jawatan Administrasi Tenrikyo, naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Zensuke Nakata.

    Sebelum sembahyang dimulai, Bapak Zensuke Nakata memberikan sambutan.

    Dengan mengutip ayat Nyanyian Suci Mikagura-uta:

    Janganlah memohon yang tidak wajar!
    Datanglah pada-ku dengan hati tulus!
    (Nyanyian Suci Mikagura-uta Pasal III, ke-enam)

    Bapak Zensuke Nakata, menyatakan bahwa “memohon yang tidak wajar” merupakan permohonan yang keluar dari hati yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan Orangtua, sedangkan “dengan hati tulus” menunjuk kepada keadaan hati yang sebaliknya. Lalu, memaparkan, “Jika ada seratus orang, saya kira ada seratus hati yang berbeda-beda. Maka dari itu, kita perlu berusaha saling menyatupadukan hati, sehingga dapat memohon perlindungan Tuhan Orangtua dengan satu hati yang tulus-ikhlas.” Demikianlah, Bapak Nakata menekankan sikap hati yang perlu kita perhatikan dalam sembahyang khusus ini.

    Kemudian, dengan mengutip ayat ke-tujuh dan ke-delapan dari pasal yang sama, beliau menegaskan, “Pertama-tama, tanpa lupa kita harus berterima kasih atas pemeliharaan “Api,” “Air” dan “Angin” yang kita terima setiap hari dan melakukan hinokishin untuk membalas budi atas kebaikan Tuhan yang meminjamkan tubuh kepada kita. Dan penting bagi kita untuk menetukan pemikiran dan membulatkan tekad untuk menyatakan gerakan nyata agar dapat maju selangkah dalam pendewasaan hati. Dengan demikian, Tuhan pasti akan menerima permohonan kita.”
    Bapak Zensuke Nakata menutup sambutannya dengan berpesan, “Tidak hanya dalam situasi yang menyesakkan karena Covid-19 saja, walaupun dalam situasi seperti apa pun, dengan selalu berusaha untuk membalas budi atas perlindungan Tuhan Orangtua sehari-hari dan menyandarkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Orangtua, serta dengan berusaha dalam penyelamatan orang lain mulai dari lingkungan sekitar kita, marilah kita bersama-sama berikrar untuk mendewasakan hati kita sehingga dapat menerima berkah dari Tuhan Orangtua.”


    Adapun sembahyang khusus untuk memohon meredamnya penyebaran Covid-19 ini, selama tahun ini, dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo pada tanggal 1 setiap bulan mulai dari pukul 12:00 siang.

  • tanggal update : 2021-06-29 11:10 AM

    Pada tgl. 1 Juni telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo

    Sembahyang khusus ini tujuannya tidak lain untuk memohon meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan

    yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna mengapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan saling menyatupadukan hati. Untuk membatasi jumlah umat yang berpartisipasi di dalam Gedung Gereja , di Halaman Dalam Gereja Pusat maupun di halaman di depan Tempat Sembahyang Selatan disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada pukul 12:00 siang, sembahyang khusus pun dimulai dengan hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke Nakayama dan kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Yoichiro Miyamori (Kepala Jawatan Urusan Dalam Gereja Pusat Tenrikyo).

    Sebelum sembahyang dimulai, Bapak Miyamori memberikan sambutan.

    Setelah menyinggung situasi sekarang di mana keadaan darurat masih tetap diterapkan untuk berbagai daerah, Bapak Miyamori mengatakan, “Tidak hanya memohon untuk mengakhiri pandemi Covid-19 kepada Tuhan Orangtua saja, tetapi kita sendiri perlu juga bergerak untuk menolong orang-orang yang menderita karena dirongrong oleh kecemasan.”

    Lalu, dengan mengutip ayat Ofudesaki yang berbunyi,

    Betapapun sukarnya menurut pikiranmu,

    Jangan khawatir, sebab Aku, Tsukihi, yang menanggung.

    Ofudesaki, XII-71

    ditegaskannya, “Sesulit apapun keadaan yang sekarang kita hadapi, sebenarnya kita tidak perlu merasa khawatir karena ada Tuhan Orangtua yang menanggung masa depan kita.” Selanjutnya, dengan merujuk pada dua ayat Ofudesaki, yaitu,

    Berharaplah kamu sekalian, akan jalan di hari depan,

    Yaitu bila kekesalan-Ku, Tsukihi, telah tercerahkan.

    Ofudesaki, XII-72

    Bila Aku mulai membersihkan hatimu sehari-hari,

    Barang siapapun takkan dapat menentang.

    Ofudesaki, XII-73

    Bapak Miyamori memaparkan, “Kalau kita terus berusaha untuk meleburkan rasa kecewa Tuhan Orangtua terhadap kita, kita sama sekali tidak perlu merasa khawatir. Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan sekarang adalah berusaha dalam penyelamatan orang lain dengan hati yang terang. Dan, apa yang dimaksud dengan ‘pembersihan hati’ tidak lain adalah usaha kita untuk mengubah hati kita menjadi hati yang terbebas dari pemikiran manusia yang buruk dan kekhawatiran akan masa depan.”

    Kemudian, setelah mengutip Petujuk Suci Osashizu,

    Hari ini camkanlah hakekat di hatimu dengan baik. Tak perlu merasa khawatir. Meskipun terjadi ini dan itu, semuanya jadi landasan jalan ini. Inilah hakekat.”

    Osashizu, tgl 13 Maret 1900

    Bapak Miyamori menutup sambutannya dengan menekankan, “Sekaranglah waktunya bagi kita untuk merubah hati kita. Maka, dengan membuang kekhawatiran akan masa depan, dengan melepaskan diri dari pemikiran manusia yang buruk, dan dengan merubah hati kita dengan hati yang menuju kepada jalan penyelamatan setulus hati, serta dengan menyandarkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Tuhan Orangtua, mulai sekarang marilah kita menjalankan sembahyang khusus dengan saling menyatupadukan hati kita.”

    Adapun sembahyang khusus untuk memohon meredamnya penyebaran Covid-19 ini, selama tahun ini, dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo pada tanggal 1 setiap bulan mulai dari pukul 12:00 siang.

  • tanggal update : 2021-05-12 1:34 PM

    Perayaan HUT Oyasama baik dari dalam maupun luar negeri

    Upacara Perayaan HUT Oyasama yang hidup abadi, yang ke-223 , diadakan pada tanggal 18 April di Gereja Pusat Tenrikyo dan Puri Oyasama dengan dipimpin oleh Bapak Daisuke Nakayama.

    Sebagai langkah untuk mencegah Penyebaran dan perluasan virus COVID-19, Pusat Gereja Tenrikyo menghimbau agar para Yoboku dan penganut menunda niatnya untuk menghadiri Upacara Perayaan HUT Oyasama. Selain itu acara-acara tahunan seperti “Paduan Suara Besar untuk Menyanyikan Lagu Kegembiraan” pun dibatalkan.

    Pada hari itu, yang merupakan hari terjadinya cuaca dingin di musim semi, sejak pagi Jiba diselimuti oleh awan mendung. Di halaman Gereja Pusat, di saat angin dingin bertiup tanpa hentinya, sinar matahari yang hangat sesekali turun dari celah awan mendung.

    Bapak Daisuke dan para anggota Kebaktian yang berangkat dari asrama Gereja Pusat pada pukul 9:40 pagi, terlebih dahulu menuju Puri Oyasama dan Gedung Peringatan Arwah untuk memberi hormat. Sedangkan Shinbashira-sama yang tampil dari pintu utara di ujung koridor timur, menuju ke Tempat Sembayang Selatan dan duduk di tempatnya.

    Kemudian, Bapak Daisuke yang maju ke tempat ibadah membacakan kalimat persembahan, antara lain “Saya, bersama dengan para anggota Kebaktian dan para wakil dari gereja-gereja yang hadir di hadapan-Mu, Tuhan Orangtua, serta bersama dengan semua anak-anak-Mu yang ikut menyembahMu dari berbagai penjuru dunia, ingin menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas rahmat-Mu yang kami terima sehari-hari, juga ingin menghaturkan selamat hari ulang tahun Oyasama.

    Lalu Kebaktian Kagura pun terlaksa dengan penuh sukacita.

    Setelah Kebaktian Kagura selesai, Shinbashira-sama, Bapak Daisuke, Ibu Harue dan Ibu Nobue pergi ke Puri Oyasama untuk melayani Oyasama menyantap makan siang.

    Setelah kebaktian selesai, Pengurus Besar Gereja Pusat, Pdt. Matsumura Yoshiji memberikan ceramah.

    Dalam ceramahnya, Pdt. Matsumura antara lain memaparkan bahwa apa yang diajarkan oleh Oyasama melalui Teladan Suci selama lima puluh tahun lamanya tidak lain adalah jalan untuk menolong orang lain serta jalan untuk menjernihkan hati. Lalu ia mengajak, “Selangkah demi selangkah dan dengan hati yang patuh, marilah kita menjalani jalan menuju Dunia Kehidupan Riang Gembira yang telah diajarkan oleh Oyasama dengan penuh kepedulian.”

    Setelah itu, Bapak Daisuke menuju ke Puri Oyasama dan di hadapan Oyasama membacakan Kalimat persembahan. Di dalamnya, setelah mengucapkan selamat ulang tahun kepada Oyasama, ia melanjutkan, “Kami semua akan memperdalam kembali kesadaran kami sebagai alat Oyasama, dan dalam keadaan seperti apa pun, dengan Teladan Suci sebagai tujuan kami bersama, kami akan tetap berusaha dengan penuh semangat untuk menunaikan tugas penyelamatan setulus hati.

    Dalam situasi pandemik Covid-19, saudara-saudara seiman di berbagai penjuru dunia pun ikut merayakan HUT Oyasama dari tempatnya masing-masing.

    Lalu, sebelum maupun sesudah Upacara Perayaaan HUT Oyasama, di linkungan Gereja Pusat terlihat juga orang-orang atau kelompok-kelompok kecil seperti keluarga, yang datang untuk bersembahyang.

  • tanggal update : 2021-05-12 1:19 PM

    Sekaranglah waktunya bagi pengikut Jalan ini untuk menunjukkan gerakan nyata yang selalyaknya

    Mengingat situasi di mana penyebaran COVID-19 masih terus berlanjut di seluruh dunia, pada tgl. 1 April telah dilaksanakan sembahyang khusus di Gereja Pusat Tenrikyo

    Sembahyang khusus yang dilakukan untuk pertama kali sejak bulan Maret tahun lalu ini tujuannya tidak lain untuk memohon meredamnya perluasan infeksi Covid-19 dan penyembuhan untuk orang yang terkena dampaknya. Di samping itu, sembahyang khusus kali ini menjadi kesempatan yang baik bagi pengikut jalan keimanan ini untuk mengingat kembali makna kenapa kita memohon berkah perlindungan Tuhan Orangtua dengan menyatupadukan hati. Meski terpaksa membatasi jumlah orang yang ikut di dalam gedung gereja, baik di Halaman Tengah maupun di halaman di depan Tempat Sembahyang Selatan disediakan sejumlah kursi pipa.

    Pada hari itu, tak hanya anggota Gereja Pusat saja, tapi baik umat yang tinggal di Oyasato (Kota Tenri) maupun para siswa Shuyouka pun datang berkumpul. Sementara gema suara pengumuman yang memperingatkan agar duduk sambil menjaga jarak, orang-orang pun diatur oleh para staf Gereja Pusat.

    Pada pukul 12:00 siang, Bapak Daisuke Nakayama beserta Bapak Yoichiro Miyamori, Kepala Kantor Jawatan Urusan Dalam Pusat Gereja Tenrikyo, naik ke tempat ibadah. Lalu sembahyang khusus pun dimulai dengan hyoshigi yang dimainkan oleh Bapak Daisuke dan kazutori (tali penghitung) yang dipegang oleh Bapak Miyamori.



    Sebelum sembahyang dimulai, Bapak Miyamori memberikan pesan.

    Di dalamnya, setelah menyinggung langkah-langkah berliku sejak tahun lalu untuk mencari cara menghadapi Covid-19, Bapak Miyamori menekankan bahwa pada waktu sekarang ini, hal yang penting bagi pengikut jalan keimanan ini adalah penetapan hati dan keyakinan yang teguh terhadap Tuhan. Lalu dilanjutkannya, “Karena kita diajarkan bahwa hati yang ingin menyelamatkan orang adalah ketulus-ikhlasan sejati, maka hendaknya kita semua dapat menetapkan hati untuk menunjukkan gerakan nyata yang selayaknya yang dapat memicu usaha penyelamatan orang lain.”

    Adapun sembahyang khusus untuk memohon meredamnya penyebaran Covid-19 ini, selama tahun ini, dilaksanakan di Gereja Pusat Tenrikyo pada tanggal 1 setiap bulan mulai dari pukul 12:00 siang.

1 / 812345...最後 »